Virus Varicella Zoster

Virus Varicella Zoster-Varicella adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). Infeksi berulang (herpes zoster, juga dikenal sebagai shingles) telah dikenal sejak jaman dahulu. Cacar air diyakini pertama kali ditemukan oleh Giovanni Filippo pada tahun 1500an di Italia. Pada 1600-an, seorang dokter Inggris bernama Richard Morton memberi nama cacar air atau chickenpox yang diperkirakan mirip dengan smallpox. Dipercaya bahwa pada 1700-an, William Heberden adalah dokter pertama yang membuktikan bahwa cacar air sebenarnya berbeda dari cacar.

Infeksi varisela primer (Cacar Air atau Chickenpox) pada awalnya mulanya tidak dapat dibedakan dengan Smallpox sampai akhir abad ke-19. Pada tahun 1875, Steiner menunjukkan bahwa cacar air, disebabkan oleh agen infeksius. Steiner menginokulasi cairan vesikular dari pasien dengan varicella akut. Observasi klinis  hubungan antara Varicella dan Herpes Zoster dibuat pada tahun 1888 oleh Von Bokay, ketika anak tanpa bukti kekebalan varicella menderita varicella setelah kontak dengan herpes zoster. VZV diisolasi dari cairan vesikular cacar air dan lesi zoster dengan menggunakan kultur sel oleh Thomas Weller pada tahun 1954. Selanjutnya studi laboratorium tentang virus yang perkembangannya dilemahkan, dihasilkan vaksin varisela di Jepang pada tahun 1970an dan acliclovir pada tahun 1980an.  Vaksin ini kemudian dilisensikan untuk digunakan di Amerika Serikat pada bulan Maret 1995. Vaksin pertama mengurangi risiko herpes zoster dilisensikan pada bulan Mei 2006

Varicella Zoster Virus

Varicella Zoster Virus atau VSV merupakan family human (alpha) herpes virus berkapsul dengan diameter kira-kira 150-200 nm yang terdiri atas genome DNA berantai ganda, tertutup oleh inti yang mengandung protein dan dibungkus oleh glikoprotein. Virus ini dapat menyebabkan dua jenis penyakit yaitu varicella atau cacar air dan herpes zoster atau shingles

Varicella Zoster
Virus Penyebab Penyakit Varicella

Gejala terinfeksi varicella dimulai dengan gejala prodromal timbul pada 2 minggu setelah infeksi seperti demam, malaise, sakit kepala, dan sakit abdomen. Gejala sistemik seperti demam, lelah, dan anoreksia dapat timbul bersamaan dengan lesi kulit. Gejala pada saluran pernafasan dan muntah jarang sekali terjadi. Lesi kulit awal mengenai kulit kepala, muka, badan, biasanya sangat gatal, berupa macula kemerahan, kemudian berubah menjadi lesi vesikel kecil dan berisi cairan di dalamnya. Penyembuhan adalah terbentuknya sel epitel kulit baru yang muncul dari dasar lesi. Hipopigmentasi dapat terjadi akibat penyembuhan lesi. Scar atau bekas luka jarang terjadi akibat infeksi varicella

Menurut slisbury, dkk (2006) Penyakit ini ditandai dengan vesikel-vesikel di suatu dermatom ganglia spinalis atau kranialis, tempat virus tersebut dorman; dan nyeri radikuler yang intensif di daerah lesi

Herpes zoster adalah radang kulit akut, yang mempunyai sifat khas yaitu vesikel- vesikel yang tersusun berkelompok sepanjang persyarafan sensorik kulit sesuai dermatom  Herpes zoster (atau hanya zoster), umum dikenal sebagai penyakit ruam saraf yang ditandai dengan ruam kulit yang menyakitkan dengan lepuh di wilayah yang terbatas pada satu sisi tubuh, sering kali dalam satu garis.

Herpes Zooster ini ditandai dengan lesi unilateral terlokalisasi yang mirip dengan cacar air dan terdistribusi pada syaraf sensoris. Biasanya lebih dari satu syaraf yang terkena dan pada beberapa pasien dengan penyebaran hematogen, terjadi lesi menyeluruh yang timbul setelah erupsi lokal

Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan vaksinasi dan imunoglobin varicella zooster (VZIG). Vaksinasi dilakukan dengan pemberian vaksin zostavax yang terbuat dari virus varicella zoster yang di lemahkan. Zostavax diindikasikan untuk imunisasi individu usia 50 tahun keatas. Vaksin ini bermanfaat untuk mencegah penyakit varicella zoster dan mencegah timbulnya lepuh pada kulit.Varicella-zoster immune globulin (VZIG) merupakan sediaan antibodi yang dibuat dari plasma orang sehat yang memiliki kadar anti-VZV yang tinggi.

Varicella-zoster immune globulin (VZIG) diberikan dalam 2 injeksi atau lebih, tergantung dari berat badan pasien, dan diberikan 96 jam setelah terpapar virus. Varicella-zoster imunoglobulin (VZIG) terbukti menurunkan risiko infeksi berat bila diberikan segera setelah pajanan. Efek samping yang paling sering terjadi setelah pemberian varicella-zoster immunoglobulin (VZIG) adalah nyeri pada tempat penyuntikan dan sakit kepala. VZIG dapat diberikan sebagai terapi bagi anak dan dewasa, bayi baru lahir, wanita hamil, bayi prematur. (Soedarmo, 2002).

Pengobatan

Di dalam tubuh manusia dapat diobati dengan sejumlah obat dan agen terapeutik termasuk asiklovir, famciclovir, valasiklovir, zoster-immune globulin (ZIG), dan vidarabine. VZV immune globulin juga merupakan salah satu bentuk pengobatan dengan menggunakan vaksin

Share ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *