Menuju Sumatera Utara Bebas DBD

Menuju Sumatera Utara Bebas DBD

Penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang sering menyerang bayi, anak dengan umur di bawah 5 tahun, remaja, hingga orang dewasa sekalipun. Masalah kesehatan ini ternyata diketahui telah menyebar hampir di seluruh bagian dari wilayah Provinsi Sumatera Utara sebagai KLB atau Kejadian Luar Biasa dengan angka kesakitan dan angka kematian yang relatif tinggi.

Data Endemis DBD

Di Sumatera Utara sendiri, menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara KLB dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Daerah Endemis DBD yaitu Kota Medan, Deli Serdang, Langkat, Asahan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan Kabupaten Karo; Daerah Sporadis DBD : Kota Sibolga, Tajung Balai, Simalungun, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Dairi, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, Humbang Hasundun, Pakpak Bharat, Serdang Bedagai dan Kabupaten Samosir; serta Daerah Potensial DBD : Kabupaten Nias.

Diterangkan pula bahwa Insident Rate pada tahun 2012 kasus DBD sebesar 33 per 100.000 penduduk dengan catatan 4.367 kasus. Pada tahun 2014 jumlah kasus meningkat menjadi 7.140 kasus dengan IR 51 per 100.000 penduduk, di sisi lain angka Case Fatality Rate atau CFR mengalami penurunan hingga tahun 2014 dan sudah mampu mencapai target nasional yaitu <1%. 3 tahun terakhir angka IR umumnya dilaporkan oleh Kota Medan, Deli Serdang, Simalungun, dan Binjai. Baik kabupaten Hasundutan, Mandailing Natal, dan Nias Selatan, dilaporkan tidak ada kasus DBD. Diperlukan penanganan untuk Menuju Sumatera Utara Bebas DBD.

Bebas DBD
Nyamuk Aedes sp sebagai Salah Satu Vektor Perantara Penyakit DBD

Penyakit DBD merupakan penyakit yang membuat suhu tubuh penderita menjadi sangat tinggi dan umumnya disertai sakit kepala, nyeri sendi, otot, tulang, dan nyeri di bagian belakang mata. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae yang penyebarannya terjadi melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes. Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis) yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4. Setiap serotipe dari nyamuk ini cukup berbeda, sehingga tidak ada proteksi silang dan wabah dari beberapa serotipe dapat terjadi.

 Demam berdarah sebenarnya merupakan komplikasi dari demam dengue yang memburuk. DBD sering ditemukan di daerah beriklim tropis dan subtropis dan umumnya menyerang kawasan urban dan semi-urban. Nyamuk yang menjadi penyebar virus ini seringkali ditemukan di tempat penampungan air buangan manusia di dalam maupun di luar rumah, tempat umum, dengan kebiasaannya menggigit sepanjang pagi maupun sore hari.

Faktor Penyebab

Banyak faktor yang kemudian menyebabkan munculnya penyakit ini, seperti musim dan manusianya sendiri. Biasanya ketika musim hujan, di mana kelembaban dan suhu optimum bagi nyamuk tercapai, penyakit ini sering muncul. Berbeda lagi dengan musim kering, biasanya kemudian muncul banyak penampungan air, tong, genangan air yang disengaja dibuat oleh manusia. Faktor yang disebabkan oleh manusia misalnya kurangnya pengetahuan akan siklus hidup nyamuk ini, tempat mencari makan nyamuk, tempat berkembang biak nyamuk, dan tempat istirahat nyamuk. Banyak sekali perilaku disengaja yang dilakukan oleh manusia yang bisa justru menciptakan tempat hidup bagi nyamuk. Kondisi ini mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita DBD tinggi.

Teknik Pengendalian Vektor

Dari beberapa hal ini kemudian bisa dirumuskan teknik pengendalian vektor nyamuk ini sebagai berikut :

  1. Pemerintah bisa selalu mengedukasi masyarakat mengenai bionomik nyamuk, tempat mencari makan nyamuk, tempat berkembang biak, maupun tempat istirahat nyamuk yang bisa memicu perkembang biakan nyamuk agar bebas DBD. Pengenalan masyarakat terhadap DBD ini akan membantu mereka untuk lebih bisa melakukan tindakan preventif.
  2. Pemerintah Sumatera Utara dapat membuat kegiatan surveilans penyakit dan vekor, diagnosis dini dan pengobatan dini. Pelaksanaan program dilakukan secara merata dan serentak. Hal ini bertujuan agar vektor tidak berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Salah satu pengendalian yang paling efektif adalah dengan pengendalian vektor secara terpadu. Pengendalian vektor terpadu sendiri merupakan program untuk mereduksi vektor pembawa penyakit.
  3. Kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan seperti dengan pengunaan abate, fogging,pembenahan sanitasi, dan penyediaan obat-obatan bagi penderita DBD. Hal yang paling penting juga adalah keberlanjutan program.
  4. Upaya preventif bisa dilakukan oleh masyarakat dengan proteksi diri sendiri, dengan menerapakan apa yang sudah diberikan oleh pemerintah. Masyarakat bisa mereduksi perkembangan nyamuk maupun transmisi virusnya itu sendiri dengan mengontrol lingkungan dengan kontrol kimia maupun biologi.
  5. Masyarakat juga bisa melakukan perubahan pola hidup dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, mengurangi genangan genangan yang mungkin muncul utamanya ketika musim hujan agar bebas DBD.

Dari semua hal ini sebenarnya dengan adanya kerjasama dari pemerintah maupun dengan masyarakat maka permasalahan DBD akan bisa selesai. Perlu adanya kesinambungan dan kedisiplinan dari kedua belah pihak untuk mensukseskan program pengendalian vektor untuk menuju Sumatera Utara bebas DBD.

Berita pernah dipublikasikan di medansatu.com pada tanggal 9 Mei 2017

William Wijaya, Mahasiswa Jurusan Biologi

 Fakultas Bioteknologi

Universitas Kristen Duta Wacana, Jogjakarta

 

 

Share ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *